February 1, 2015

Bacalah!

;hanya sebuah ajakan

Tarigan dan Tarigan (1987: 185) dalam Linda dan Nurlinda (2004) mengemukakan, jika kita menerima pendapat bahwa buku sebagai gudang ilmu pengetahuan, maka menulis dan penulis adalah yang memproduksi gudang tersebut. Tanpa menulis, isi gudang akan tetap kosong. Tanpa penulis, buku tak ubahnya  gedung tua tak berpenghuni. Zaman dengan segala ihwal kemutakhiran, serba modern dan penuh kompetisi kini menjadi penjelas, bahwa menulis merupakan suatu aspek keterampilan yang perlu dikuasai.
Mulai dari era ala media sosial, facebook, twitter, path, instagram, blogger, wordpress,tumblr,dan lain-lain. Ada hal menarik, selain media di atas sebagai pengunggah visual atau sebagai wahana untuk berbagi status; gambar; gagasan; atau memperbarui hal-hal remeh sekalipun. Tetapi media, telah sempurna menjelma serupa kanon-kanon di jelaga. Menjadi taman bermain bagi perpanjangan lengan usia atas budaya tulis menulis. Melanggengkan pelbagai bentuk tulisan, baik hanya sekadar menuangkan kesah atau sekadar untuk unjuk prestige, sampai kepada hal serius pun ada. Sementara, demi menjaga budaya dari kecacatan yang sumbang. Pemakaian eja dan bahasa Indonesia yang baik dan benar, peran masyarakat serta kita menjadi suatu keniscayaan. Khususnya peran  pembelajar dan pengajar di tiap instansi pendidikan.
Mengingat keterampilan menulis bukanlah hal yang mudah, pengajaran bahasa indonesia adalah momen yang tak boleh terlewat. Seperti kesulitan menentukan tema, kesulitan dalam penggunaan diksi, dan ketepatan ejaan. Dan melihat kenyataan tersebut, peran guru bahasa Indonesia sebaiknya dapat memperbaiki dan meningkatkan keterampilan tersebut. Kesanggupan dalam menjalan peran, sebagai pengajar, pembimbing, administrator, fasilitator, evaluator, pembina ilmu, dan penimba ilmu seumur hidup.
Tentunya, dalam pengajaran bahasa Indonesia terlebih kepenulisan. Maka pengajaran tak bisa dilepaskan dari sastra, dan masyarakat mempunyai respon atau tanggapan yang berbeda-beda terhadap sastra. Dalam menanggapi sebuah bacaan sastra yang didengar atau dibacanya. Baik dari pendengaran di tiap pertunjukan, dari  bacaan di koran-koran, atau bahkan hasil simakan dari tulisan-tulisan yang banyak tersebar di sosial-media tadi. Anak mempunyai cara tersendiri dalam mengungkapkan kesenangan, pikiran, dan perasaannya. Setiap tanggapan terhadap sastra memang bersifat personal dan khas untuk masing-masing anak, namun demikian setiap tanggapan itu dapat merefleksikan umur dan penglamannya.
Istilah ‘tanggapan’ terhadap karya sastra memiliki makna beragam. Tanggapan dapat mengacu pada apa yang terjadi di akal budi pembaca atau pendengar ketika cerita itu tidak bisa ditangkap. Tanggapan dapat pula mengacu pada sesuatu yang dikatakan atau dikatakan atau dilakukan dengan pikiran dan perasaan tentang sastra. Hal ini mengindikasikan, bahwa buku akan membawa tanggapan yang bagus. Dan tanggapan tersebut adalah bagaimana tingkat ketertarikan atau minat anak dan ekspresi kesukaannya sebagai pembaca. Lingkungan dan pengaruh sosial juga mempengaruhi pilihan buku dan minat bacanya. Minat akan tampak bervariasi karena pengaruh lokasi geografis yang sangat kuat, pengaruh lingkungan dengan ketersediaan dan kelancaran bahan-bahan bacaan di rumah, di kelas, pustaka sekolah, dan pustaka umum.
Maka, di samping juga menambah varian bacaan. Pembelajaran sastra sangat penting dalam pembangunan, guna mendorong anak untuk bisa bersikap lebih kritis. Pembelajaran sastra akan mengacu kepada kesadaran sosial yang kritis, sehingga pembangunan akan menjadi terarah, makna dari sastra dapat mengarahkan kepada pemberdayaan yang bukan saja membuat orang menjadi tegas, tetapi juga mampu untuk menghadapi tantangan di masa mendatang. Identitas manusia harus tegas dan bebas dari ketergantungan, dan itu bisa didapat dalam pelajaran sastra. sastra merupakan dokumen kebudayaan yang tidak boleh dianggap bersaingan dengan politik sekarang ini. Kebersamaan dalam globalisasi mengundang gagasan multibudaya, dengan menempatkan identitas politik kelompok masing-masing sebagai hak kemanusiaan, kata dia lagi. Karena itu, pihaknya mengusulkan kurikulum multibudaya yang dapat diterapkan dalam pembelajaran sastra. Kesemuanya itu, tidak lain bertujuan untuk menjadikan pemberdayaan identitas budaya lokal yang ampuh, ujar Azhar. Dia juga berpendapat, umumnya pembelajaran sastra memerlukan nafas baru, sehingga perlu melakukan pendekatan dalam pengajaran.
Tujuan umum pembelajaran sastra merupakan bagian dari tujuan  penyelenggaraan pendidikan nasional yaitu mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar anak secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dan tujuan pembelajaran sastra di sekolah terkait pada tiga tujuan khusus di bawah ini.
1.    Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan  intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
2.    Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
3.    Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
4.    Pengajaran sastra membawa anak pada ranah produktif dan  apresiatif. Sastra adalah sistem  tanda karya seni yang bermediakan bahasa. Pencipataan karya sastra merupakan keterampilan dan kecerdasan intelektual dan imajinatif. Karya sastra hadir untuk dibaca  dan dinikmati, dimanfaatkan untuk mengembangkan wawasan kehidupan.
Pengembangan kegiatan pembelajaran apresiatif merupakan usaha untuk membentuk pribadi imajinatif yaitu pribadi yang selalu menunjukkan hasil belajarnya melalui aktivitas mengeksplorasi ide-ide baru, menciptakan tata artistik baru, mewujudkan produk baru, membangun susunan baru, memecahkan  masalah dengan cara-cara baru, dan merefleksikan kegiatan apresiasi dalam bentuk karya-karya yang unik.
Kegiatan apresiasi sastra tidak hanya diajarkan dalam bentuk pembacaan karya sastra oleh anak. Kegiatan ini dapat juga diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan dengan berbagai teknik pembelajaran. Kegiatan deklamasi, lomba penulisan puisi, musikalisasi puisi, dramatisasi puisi, mendongeng, pembuatan sinopsis, bermain peran, penulisan kritik dan esei, dan berbagai kegiatan lain dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan apresiasi sastra pada anak. Berbagai kegiatan tersebut akan menumbuhkan penghayatan, pencintaan, dan penghargaan yang relatif baik pada anak terhadap mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia.
Sastra tak bisa dan tak perlu diajarkan. Yang bisa dilakukan oleh seorang guru sastra dalam mengajar adalah mengajak anak didiknya untuk melihat kemanfaatan sastra. Memposisikan sastra sedemikian rupa pada tempatnya yang tepat sehingga jelas kaitannya, relevansinya dengan kehidupan dan proses pembelajaran. Dengan lain kata, seorang guru sastra berdiri di depan kelas di hadapan murid-muridnya, bagaikan seorang pembela di dalam sebuah peristiwa pengadilan, untuk membuktikan, untuk menunjukkan, bahwa sastra adalah ilmu.
Mengajarkan sastra tidak dimulai dengan sastra itu sendiri, tetapi siapa yang akan mempelajarinya. Lingkungan, latar belakang dan kebutuhan mereka yang hendak diberikan pelajaran sastra, tidak kalah penting dari suara karya-karya itu. Tidak seperti pelajaran sejarah, sastra bukanlah masa lalu, karenanya harus mulai dari aksi-aksi yang nyata.
Sebuah sajak, novel, lakon, cerpen, esai dan sebagainya hanya alat untuk menyampaikan/mengekspresikan gagasan dari penulisnya/pengarangnya. Di balik cerita, di dalam kata-kata ada rembukan dan kesaksian. Itulah yang harus ditontonkan kepada mereka yang belajar sastra. Membaca karya sastra seperti menggali tambang mengeruk, memburu makna-makna yang bersembunyi di balik kata-kata.
Pengajaran merupakan interaksi belajar dan mengajar. Pengajaran berlangsung sebagai suatu proses saling mempengaruhi antara pengajar dan anak. Diantara keduanya terdapat hubungan atau komunikasi interaksi. Pengajaran merupakan suatu pola yang di dalamnya tersusun suatu prosedur yang direncanakan (Ampera, 2010:6). Selain itu, pada dasarnya sastra merupakan produk budaya, kreasi pengarang yang hidup dan terkait dengan tata kehidupan masyarakat. Sastra memberikan wujud dan menggambarkan kehidupan dan realitas sosial yang ada di masyarakat.
Pengajaran sastra pada dasarnya memiliki peranan dalam peningkatan pemahaman anak. Apabila karya-karya sastra tidak memiliki manfaat, dalam menafsirkan masalah-masalah dalam dunia nyata, maka karya sastra tidak akan bernilai bagi pembacanya. Pada dasarnya pengajaran sastra mempunyai relevansi dengan masalah-masalah dunia nyata, maka dapat dipandang pengajaran sastra menduduki tempat yang yang selayaknya. Jika pengajaran sastra dilakukan secara tepat maka pengajaran sastra dapat memberikan sumbangan yang  besar untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang cukup sulit untuk dipecahkan di dalam  masyarakat (Rahmanto, 1996:15). Melalui hal tersebut, sastra memberikan pengaruh terhadap pembacanya. Sastra membentuk pola pikiran dan respon pembaca terhadap apa yang dibacanya dengaan aktivitas kesehariaanya yang saling berkaitan.
Pengajaran bahasa dan sastra pada umumnya mengalami kendala dan hambatan. Khususnya pada pengajaran sastra yang terkadang dianggap kurang bermanfaat. Sikap yang kurang apresiatif muncul dari anak didik dan guru, sehingga pengajaran sastra terabaikan. Kemendiknas (2011:59) menyatakan penyajian pengajaran sastra hanya sekedar memenuhi tuntutan kurikulm, kering, kurang hidup, dan cenderung kurang mendapat tempat dihati anak. Pengajaran sastra di berbagai jenjang pendidikan selama ini dianggap kurang penting dan dianaktirikan oleh para guru, apalagi para guru yang pengetahuan dan apresiasi (dan budayanya) rendah. Mengingat hakikat dari tujuan pengajaran sastra yaitu untuk menumbuhkan keterampilan, rasa cinta dan penghargaan bagi anak terhadap bahasa dan sastra Indonesia sebagai budaya warisan leluhur. Pada pengajarannya pula sastra memiliki problematika yang mempengaruhi minat dan keinginan anak untuk mengikuti pengajaran dengan baik.
Bahan pengajaran sastra sangat penting pada proses pembelajaran. Materi yang sesuai akan dapat membantu anak lebih mudah utuk memahami karya sastra. Materi ajar yang rumit dan sulit akan membuat anak merasa bosan untuk menikmati karya sastranya. Rahmanto (1996:27—33) mengemukakan beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam memilih pengajaran sastra yaitu sebagai berikut:
Bahasa
Penguasaan suatu bahasa sebenarnya tumbuh dan berkembang melalui tahap-tahap yang tampak. Sementara perkembangan karya sastra melewati tahap-tahap yang meliputi banyak aspe kebahasaan. Aspek kebahasaan dalam sastra tidak hanya ditentukan oleh masalah-masalah yang akan dibahas, tapi juga faktor lain seperti: cara penulisan yang dipakai si pengarang, ciri-ciri karya sastra pada waktu penulisan karya itu, dan kelompok pembaca yang ingin dijangkau pengarang.
Psikologi
Dalam memilih bahan pengajaran sastra, tahap-tahap perkembangan psikologis hendaknya diperhatikan karena tahap-tahap ini sangat besar pengaruhnya terhadap minta dan keenggaan anak didik dalam banyak hal. Tahap perkembangan psikologi ini juga sangat besar pengaruhnya terhadap daya ingat, kemauan mengerjakan tugas, kesiapan bekerja sama, dan kemungkinan situasi atau pemecahan problem.
Latar Belakang Budaya
Biasanya anak akan lebih mudah tertarik pada karya-karya sastra dengan latar belakang yang erat hubungannya dengan latar belakang kehidupan mereka, terutama bila karya sastra itu menghadirkan tokoh yang berasal dari lingkungan mereka atau yang memiliki kesamaan dengan mereka.Dengan demikian secara umum hendaknya guru sastra memilih bahan pengajaran dengan menggunakan prinsip yang mengutamakan karya-karya sastra yang latar ceritanya dikenal anak. Karya-karya sastra dengan latar budaya sendiri yang dikenal anak, akan membantu anak untuk memahami budayanya sendiri.
Cerita  pendek  menurut  Edgar  Allan Poe (dalam  Nurgiyantoro,  1995:  10) adalah sebuah cerita selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam. Cerita pendek (cerpen) adalah bagian dari sastra yang memiliki nilai  estetik  yang mengandung unsur-unsur kehidupan masyarakat. Bersama unsur intrinsik dan ekstrinsiknya yang membentuk kesatuan, sastra (cerpen) memancarkan estetikanya sehingga dapat dinikmati penikmatnya. Medium sastra adalah bahasa. Kelebihan Cerpen atau cerita pendek adalah kemampuannya mengemukakan  secara  lebih  banyak secara implisit dari sekadar yang diceritakan. Memahami sebuah   cerita pendek adalah bagian dari kegiatan menikmati karya sastra secara lebih mendalam dan lebih serius. Karena di dalam cerita pendek terdapat cerita atau kisah  secuil  dari  kehidupan  yang bermakna.
Sebagai karya sastra, cerita pendek mengandung makna yang perlu diiterpretasikan. Seperti yang dikatakan Budi Darma (2004:47) bahwa karya sastra yang merangsang pembaca untuk menafsirkan atau menginterpretasikan karya sastra itu disebut sastra serius atau interpretative  literature.  Penikmatan karya sastra tidak lepas dari memahami unsur-unsur  yang  membangun  karya sastra   itu   sendiri,   diantaranya   adalah tokoh, karakter, alur, setting, dan amanat. Tokoh   dalam   karya   sastra   merupakan salah satu unsur    penunjang dalam keberhasilan cerita. Lewat tokoh pula, pengarang dapat mempengaruhi pembaca untuk menerima ide-ide pengarang. Menurut Budi Darma (2004:47). bahwa kendati masing-masing pengarang/sastrawan mempunyai gagasan dan tujuan masing-masing, pada dasarnya fiksionalitas   tidak   dapat   membebaskan diri dari; (a). masalah nasib; (b). masalah keagamaan,  kepercayaan  perlindungan dan keselamatan; (c). masalah alam; (d). masalah manusia (e). masalah masyarakat.
Menurut Ratna (2007:39) bahwa hasil karya   manusia   selalu   dalam   kondisi interdependensi, tetapi bukan dalam hubungan substansial melainkan fungsional. Secara fungsional sastra berhubungan dengan karya seni yang lain, berhubungan juga dengan agama, mitos, filsafat, ilmu pengetahuan, arsitektur, politik, ekonomi, dan sebagainya. Karya sastra harus dipahami sesuai dengan hakikatnya.
Dengan demikian cerita pendek adalah dunia fiksi yang digambarkan pengarang seolah-olah menyerupai dunia sesungguhnya. Sehingga cerita yang mengalir dan terjalin itu seolah panggung kehidupan. Adanya cerita seperti layaknya kehidupan   nyata   itu   tidak   dipungkiri bahwa segala yang terjadi dalam dunia nyata dapat tercakup dalam karya sastra. Seperti yang dikatakan oleh  Ratna (2007: 77) bahwa hubungan sosial menjelaskan genesis karya sebagai salah satu akibat interaksi  berbagai  interaksi  yang terjadi. Karya  sastra  adalah  respon-respon interaksi sosial.
Cerita pendek dengan segala variasinya memberi sumbangsih pemikiran bagi pembaca   sehingga dapat lebih bijak dalam mengarungi kehidupan. Menurut Sastrowardoyo (1999:57) bahwa karya sastra tidak memberikan rumus-rumus berharga bagi intelektual, tetapi lebih menyarankan berbagai kemungkinan moral, sosial, dan psikologis, mendorong kemampuan pikiran untuk merenung, bermimpi,   dan   membawa   pikiran   ke semua macam situasi dan dibentuk oleh pengalaman-pengalaman imajinatif. Dan dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa cerita pendek yang sarat dengan permasalahan perlu diinterpretasikan. Cerpen dengan segala kreasinya tersebut merupakan ide cemerlang pengarang sebagai kepedulian terhadap keadaan sosial.
Pengembangan bahan ajar menulis cerpen dengan strategi pemodelan adalah bahan ajar yang menyajikan materi, latihan, dan berbagai pemodelan/contoh cerpen yang diharapkan dapat membantu anak dalam menulis cerpen yang memfokuskan pada pengembangan peristiwa dan tokoh. Peristiwa dan tokoh merupakan unsur cerpen yang saling berhubungan, yang juga tidak terlepas dari unsur­unsur yang lain, seperti latar, gaya, sudut pandang, dan tema. Berdasarkan hal tersebut, secara implisit unsur cerpen peristiwa dan tokoh dalam bahan ajar menulis ini saling berhubungan dan saling menghidupi.
Dan dalam pembelajaran menulis cerpen, tidak terlepas dari bimbingan guru sehingga anak mampu memilih tema, mengembangkan ide pokok, mengembangkan tokoh baik langsung maupun tidak langsung, mengembangkan peristiwa, menyusun draf yang dikembangkan dari kerangka, dan mengedit naskah cerpen atau merevisi. Kegiatan menulis cerpen dengan strategi pemodelan dalam bahan ajar bertujuan agar anak mengalami proses dalam beberapa tahapan kegiatan belajar. Tahapan kegiatan yang dilewati itu meliputi; (1). memilih topik; (2). mengembangkan ide pokok; (3). mengembangkan tokoh baik langsung maupun tidak langsung; (4). mengembangkan peristiwa; (5). menyusun kerangka; (6). menulis cerpen; (7). mengedit atau merevisi.
Atas dalih pengajaran apresiasi cerpen di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat SD sampai dengan SMA belum memenuhi harapan. Situasi dan kondisi pengajaran apresiasi cerpen di sekolah yang hanya didominasi oleh pemerian pengetahuan tentang cerpen, sejarah cerpen, dan belum mengarah pada kegiatan belajar yang apresiatif. Sebenarnya yang dituntut pada kurikulum baik 1994 maupun 2004, yaitu peningkatan kemampuan anak mengapresiasi cerpen yang tidak sekadar dibekali dengan pengetahuan dan sejarah cerpen, melainkan juga pemberian pengalaman kreatif mencipta cerpen.
Apabila diamati secara cermat menurut perspektif penulis, ada empat kecenderungan yang memberikan gambaran tentang situasi dan kondisi pengajaran apresiasi cerpen di sekolah. Pertama, pengajaran apresiasi cerpen masa kini lebih didominasi dan cenderung mengarah pada sejarah dan teori cerpen. Kedua, pengajaran apresiasi cerpen anak didik kurang diberi kesempatan meresapi dan mereaksi karya cerpen. Ketiga, ada jarak antara pengajaran apresiasi cerpen dan perkembangan cerpen. Keempat, dalam pengajaran apresiasi cerpen anak didik kurang diberi kesempatan untuk berlatih mencipta cerpen.
Guru dalam hal ini berkewajiban menciptakan situasi  dan kondisi yang kondusif dalam kegiatan belajar-mengajar apresiasi cerpen. Situasi dan kondisi yang kondusif adalah memungkinkannya anak untuk dapat bersikap reseptif, reaktif, dan aktraktif di dalam kegiatan belajar-mengajar apresiasi cerpen.
Maka dengan strategi pengajaran re-kreasi, kiranya menjadi alasan tepat. Mengingat pelbagai pengalaman yang telah terjadi, seperti yang sudah dipaparkan di atas. Istilah re-kreasi dapat diartikan sebagai upaya “penciptaan kembali”. Strategi re-kreasi dalam pengajaran apresiasi cerpen merupakan penerapan teknik penciptaan kembali dalam kegiatan belajar-mengajar yang memberikan kesempatan bagi anak untuk mencipta cerpen berdasarkan unsur-unsur yang terdapat di dalam cerpen lain yang pernah dibaca. Istilah re-kreasi ada hubungannya dengan strategi strata. Strategi strata tersebut meliputi tiga tahap; (1). tahap penjelajahan; (2). tahap interpretasi; (3). tahap re-kreasi.
Kegiatan-kegiatan yang dapat dilaksanakan pada tahap re-kreasi dalam pengajaran cerpen adalah; (1). penciptaan kembali sebuah cerpen berdasarkan tema cerpen lain yang pernah dibaca; (2). penciptaan kembali sebuah cerpen berdasarkan nada pada cerpen lain yang pernah dibaca anak; (3). penciptaan kembali sebuah cerpen berdasarkan suasana cerpen lain yang telah dibaca anak; (4). penciptaan kembali sebuah cerpen berdasarkan latar cerpen lain yang telah dibaca anak; (5). penciptaan sebuah parafrase, penyaduran, dan penerjemahan cerpen ke dalam bentuk lain.
Berdasarkan tema, strategi re-kreasi sebuah cerpen dapat dilakukan berdasarkan tema cerpen lain. Dan diharapkan pula dapat menunjang keterampilan berbahasa siswa, baik kemampuan berbahasa maupun kemampuan bersastra (mendengar, berbicara, membaca, menulis). Penciptaan kembali sebuah cerpen berdasarkan persamaan tema cerpen lain juga dapat mengembangkan cipta, rasa, dan karsa siswa serta menunjang pembentukan watak. Demikian pula berdasarkan unsur-unsur instrinsik lainnya.
Re-kreasi dan rekreasi sebagai sebuah alternatif. Cerpen sebagai karya kemanusiaan yang kreatif, imajinatif, dan sugestif dapat berfungsi memberikan pengaruh positif terhadap cara berpikir orang mengenai baik dan buruk, mengenai benar dan salah, dan mengenai cara hidupnya sendiri serta bangsanya (Suyitno, 1986). Konteks kalimat tersebut bermakna bahwa fungsi cerpen dalam kehidupan manusia jauh dari hal-hal yang bersifat kebendaan. Dengan demikian kegiatan belajar-mengajar apresiasi cerpen selain bisa diarahkan pada kegiatan re-kreasi (penciptaan kembali), hendaknya juga memberikan rekreasi imajinatif yang bersifat spiritual. Yang kemudian, dengan langkah awal re-kreasi. Pelbagai macam pembiasaan diri dalam mengawali penulisan cerpen, selanjutnya menjadi stimulus bagi penulisan cerpen yang orisinal dan otentik.








Pustaka
Ampera, Taufik. 2010. Pengajaran Sastra Teknik Mengajar Sastra Anak Berbasis Aktivitas. Bandung: Widya Padjadjaran.
Darma,   Budi.   2004. Pengantar   Teori Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa.
Kemendiknas. 2011. Pendidikan Karakter Berbasis Sastra. Kegiatan Naskah Bahan Kerjasama, Informasi dan Publikasi. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar Kementrian Pendidikan Nasional.
Nugiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Rahmanto, B.  1996. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.
Ratna, Nyoman Kuntha. 2007. Estetika Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sastro wardoyo, Subagio. 1999. Sekilas Soal sastra dan Budaya. Jakarta: Balai Pustaka
Suyitno. 1986. Sastra, Tata Nilai dan Eksegesis. Yogyakarta: Hanindita.
Tarigan, H.G.. 2011. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Sastra Bandingan dan Sejarah Sastra Indonesia


Judul   : Sastra Bandingan dan Sejarah Sastra Indonesia
Penulis : Ayu Sutarto
Terbit   : Jurnal Kritik, No. 04 Tahun 2014

Tulisan Ayu Sutarto---seorang Guru Besar Universitas Jember--- dalam Jurnal Kritik, No. 04 Tahun 2014 coba menjawab tentang eksistensi sastra bandingan, atas pertanyaan-pertanyaan relevansi sastra bandingan di hadapan dunia yang tengah menghadapi fenomena pascamodern akibat dari pesatnya perkembangan teknologi informasi. Kemudian eksistentsi pendekatan-pendekatan yang menjadi telaah sastra bandingan ketika dunia mengalami proses homogenisasi budaya.

Laju perkembangan teknologi informasi telah membawa manusia masa kini ke dalam berbagai sisi realitas baru dalam kehidupan. Beberapa kosa kata yang terkait dengan gaya hidup seperti penampilan, kenyamanan, keterpesonaan, kebebasan berekspresi, kebebasan hasrat, dan pemaknaan terhadap berbagai gejala telah menyebabkan sebagian masyarakat kehilangan realitas-realitas masa lalu. Topik-topik kekinian seperti fun, ekstasi, skizofrenia, libido, konsumerisme, neo-liberalisme, kapitalisme global, dan lain-lain. Sampai kepada sastra siber yang hadir bersama cyberporn, playstation, dan online games, berbaur dengan berbagai krisis;  moneter; spiritual; kepercayaan.

Tradisi bersastra di berbagai belahan bumi juga mengalami perubahan yang cukup berarti, para pengarang yang hidup di berbagai negara dapat dengan mudah melihat perubahan yang terjadi, termasuk yang terjadi di luar negaranya. Seperti melalui televisi dan internet. Singkatnya, pada hari ini ketika proses homogenisasi budaya mulai tampak kehadirannya, dan dunia sastra juga mengalami perkembangan yang pesat. Terkait dengan tema, masalah yang diangkat, maupun dengan pendekatan dan teori yang digunakan untuk mengkaji. Maka disiplin sastra bandingan juga harus membuka diri guna merespon perubahan zaman, dan mengaitkan fenomena perubahan yang terjadi untuk memperluas lahan garapan.

Arus informasi, juga secara langsung atau tidak langsung ikut mempengaruhi proses kreatif seorang pengarang. Baik ideologi maupun akidah, menjadi suatu keniscayaan yang harus diterima sebagai penyeretan atas arus perubahan. Beberapa bangsa bisa saja menerima perubahan tanpa sangka dan curiga, tetapi beberapa bangsa lain juga ada yang menolak sebagian perubahan, terutama perubahan yang mengancam identitas budaya atau identitas nasional, dengan memberikan berbagai bentuk perlawanan. Dan berangkat dari fenomena zaman seperti itulah, maka kiranya disiplin sastra bandingan menemukan lahan yang lebih luas dan menarik. Melalui disiplin sastra bandingan, bangsa-bangsa yang hidup pada era pascamodern dapat memetik pelajaran dari segala dampak positif maupun negatif dari berbagai perkembangan dan kecenderungan global yang hadir di tengah kehidupan mereka.

Era pascamodern yang kita alami sekarang ini adalah era peradaban pasar. Bahasa dan pola pikir pasar/bisnis mendominasi kehidupan sehari-hari. Peradaban pasar dikhawatirkan menjadi pemicu terjadinya proses homogenisasi budaya. Peradaban pasar tidak hanya mengubah gaya hidup lokal menjadi global, tetapi juga mewarnai perkembangan ketahanan, dan nasib berbagai produk kebudayaan dan peradaban yang berlabel lokal. Ranah pemakaian bahasa, apresiasi sastra, dan penggunaan produk-produk kebudayaan lokal  kini makin menyempit dan terpinggirkan.

Budaya pascamodern ditandai dengan kabur dan runtuhnya sekat-sekat tradisional antara budaya tinggi dan budaya rendah, antara budaya bisnis dan dunia seni, dan antara kebudayaan dan bisnis. Seperti, meningkatnnya penampilan dan status budaya pop, yang dipercepat oleh media elektronik telah mengakibatkan kekaburan posisi antara keduanya (Chambers, 1986: 194).

Lima pemicu yang oleh Appadurai (dalam  Uncapher, 1995: 2) masing-masing dinamakan; (1) etnoscapes yang terkait dengan pengaruh informasi dan penetrasi budaya melalui migrasi berbagai kelompok etnis dari satu negara ke negara lain; (2) mediascapes yang terkait dengan penyebaran informasi melalui berbagai media, seperti surat kabar, majalah, stasiun televisi, film, dan internet; (3) techoscapes; (4) financescapes; (5) dan ideoscapes. Semua pemicu itu, baik diterima maupun berlawanan, baik yang yang moderat maupun radikal, mengalir dengan deras ke berbagai negara dan menggenangi kehidupan manusia.

Pascamodern adalah sebuah gejala yang membingungkan. Pikiran manusia terseret oleh wacana yang terkait dengan resistensi, pemindahan, dan perubahan gagasan tentang kebudayaan.  Yang pada gilirannya, pascamodern telah mengambil perhatian yang mendalam terhadap fenomena bahasa dan kebudayaan, dan gejala kebudayaan seperti ini sangat mempengaruhi proses kreatif seorang pengarang/sastrawan yang berperan sebagai pencatat kehidupan dan  perjalanan peradaban. Dan manusia-manusia pascamodern adalah manusia yang mengidap berbagai penyakit kecanduan, akibat kemajuan ilmu dan teknologi yang dipenuhi informasi sehingga tak ada satu sudut pun yang tak tersentuh oleh informasi. Seperti, kecanduan obat-obatan elektronik. Media televisi, video, video game, telepon seluler, komputer, dan internet. Maupun berbagai bentuk ritual baru seperti opening ceremony, clubbing, social gathering, fans club, anti-fans club, facebook, twitter, fashion show, dan lain-lain.

Para pengisi era pascamodern, dapat disebutkan beberapa nama-nama yang mewarnai dunia sastra. Seperti penulis-penulis sastra kontemporer, yang kekinian diberi label sebagai penulis sastra wangi. Nama-nama tersebut seperti, Ayu Utami, Djenar Maesayu, Fira Basuki, Dewi Lestari, dan lain-lain, yang merupakan sosok perempuan belia yang cantik, menarik, dan kosmopolit. Jika Generasi Balai Pustaka (1920-an) ditandai dengan konflik antara individu dan adat, Angkatan Pujangga Baru dengan Nasionalis, Angkatan 45 dengan Humanisme, Angkatan 66 dengan protes Sosial-Politik, dan Generasi 70-80 dengan budaya populer, maka Generasi 2000an diidentifisikan dengan liberalisme dan dengan sejarah aspek penulisannya. Dan tulisan-tulisan mereka seringkali mengabaikan moralitas dan penuh dengan slang serta referensi sosial (Arimbi, 2009: 80).

Dari uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam era pascamodern yang diwarnai dengan derasnya arus informasi ke seluruh penjuru dunia. Gejala yang saling mempengaruhi bukan makin surut malah makin membesar. Fenomena seperti itu tentu  bukan hanya mengakibatkan hegemoni, melainkan juga pergesekan dan benturan antar-peradaban. Dalam berbagai bidang kehidupan termasuk kehidupan bersastra dan satra bandingan khususnya, muncul fenoma yang mempengaruhi dan dipengaruhi, yang menjajah dan dijajah, yang menindas dan ditindas, dan yang meniru dan yang ditiru, akan senantiasa hadir di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Oleh karena itu, dalam era pascamodern di mana muncul banyak  gejala, telaah sastra bandingan bukan hanya akan memperluas cakrawala berpikir Timur untuk memaknai dan memahami Barat, tetapi juga akan membuka mata Barat untuk melihat dan mendefinisikan kembali Timur.

Selanjutnya, pertanyaan yang akan selalu hadir di tengah pikiran dan perasaan kita adalah apakah kita harus serta-merta menjadi global atau tetap menjadi lokal, semisal tetap menjadi Melayu atau Indonesia? Pertanyaan ini sejatinya dapat kita jawab melalui sastra bandingan, karena setiap perasaan dan pikiran manusia tidak dipandang dari ras, etnis, agama, maupun belahan bumi mana. Dan kesejatian, telah diuraikan oleh para sastrawan di seluruh dunia melalui karya-karyanya dan pegiat sastra bandingan. Dan dalam memilih atau menentukan sikap sebagai pemahaman gejala, maka dengan membandingan menjadi suatu keniscayaan yang mesti kita lakukan. ***

Kematian dan Budaya


;Presiden, Michael Jackson, Noordin M. Top, Mbah Surip, dan Rendra.

Ada tiga hal yang menjadi misteri bagi manusia; kematian; jodoh; dan rejeki. Sungguh, ketiganya ialah keanehan dari metode cinta yang dimiliki tuhan. Betapa tidak? Ia menjaga pohon akasia dari segala rahasia, menggugurkan lima dahan pertama dari keseluruhan ayatnya, demi satu seruan; bacalah.
Bagi kamu, yang pernah hidup di akhir tahun 2009-an. Sayang tak berbilang, kalau saja tak mengenal nama sekelas Michael Jackson. Tanggal 25 Juni silam, ia menghembuskan napas terakhir. Dunia seakan berduka, termasuk bagi seorang tokoh nomor satu di Amerika. Barrack Obama. Terbukti, ketika Presiden eks anak Menteng itu menggunakan sarung tangan pada saat berpidato di pagi duka. Merupakan sebuah apresiasi yang membanggakan, mengingat sarung tangan merupakan aksesoris si Raja Pop.
Nyatanya duka, belumlah cukup di tanah Uncle Sam saja. Di belantika raya Indonesia, juga meruak kabar duka kematian. Ada tiga momentum sejarah Indonesia dalam seminggu di awal Agustus 2009, tiga tema besar bagi para peliput kabar. Termasuk kantor-kantor media dan berita, yang hanya terkecuali bagi peluput berita dan pelupa.
Dan demi membangun kembali ingat kenangan kita yang sedikit mengkhawatirkan, mari kita mengheningkan cipta sejenak. Melalui tema yang pertama, masih dengan kamu yang pernah hidup di akhir tahun 2009-an. Sayang tak berbilang, kalau tak mengenal nama sekelas Noordin M. Top. Salah seorang tokoh radikalisme agama, juga seorang teroris abad kekinian. Menyusul pendahulunya, Dr. Azhari yang sudah lebih dulu wafat di tahun 2005. Noordin M. Top, putera malaysia itu wafat seusai Densus 88 menyergap tempat bertafakurnya di Temanggung pada tanggal 8 bulan 8.
Tema kedua, masih dengan kamu yang hidup hingga akhir tahun 2009-an. Sayang tak berbilang, kalau saja tak mengenal nama Urip Ariyanto. Tapi untuk yang satu ini, saya menjadi ragu. Sebab mungkin, hampir semua orang belum tentu mengenalnya. Mbah Surip, ialah pelantun lagu kondang Tak Gendong dengan potongan rambut gimbalnya. Seniman bangun tidur lalu Tidur Lagi itu pun tidur juga untuk selama-lamanya, tanggal 4 Agustus silam menutup usia.
Dan tema ketiga, adalah tentang kecewa dan kecemburuan dari diri saya yang masih penuh noda. Bagaimana tidak? Kematian seorang Ws. Rendra dalam berita pada tanggal 6 Agustus, pemberitaan tak semenohok pada tokoh-tokoh sebelumnya. Tak seperti kematian MJ yang teramat ramai, hingga Barrack Obama pun ikut menyesaki pemakaman melalui pidatonya. Meskipun, saya tak terlalu gandrung dan mengikutinya. Akan tetapi, tentang bagaimana euforia kematian dari dua tokoh yang wafat di Indonesia.
Di hadapan akal sehat dalam jumpa pers, Presiden SBY berpidato hanya untuk wafatnya Mbah Surip tapi tidak untuk wafatnya Rendra. Belum lagi, tentang Presiden yang hanya tanggap mengirim karangan bunga kepada Mbah surip, demi citra serta popularitas di antara kerumunan para pelayat Mbah Surip. Ini adalah kehancuran logika dan kebangkrutan parameter nilai budaya dari seorang presiden. Tapi apakah karena Tak Gendong dan Tidur Lagi itu sudah sangat dihafal oleh banyak khalayak? Sementara di antara iring-iringan ribuan orang yang mengantar Mbah Surip menuju pemakaman Bengkel Teater Depok, tak ada satupun wartawan menanyakan keberadaan Rendra, padahal Rendra saat itu tengah tak berdaya, di tengah acara pemakaman Mbah Surip di rumah Rendra sendiri. Apakah ribuan orang yang melayat Mbah Surip di Pemakaman Bengkel Teater itu tahu,  di mana sang tuan rumah sekarang?
Benarkah kita lebih menghargai budaya yang sensasional, trend terkini, sesuatu yang lebih menarik kerumunan, sesuatu yang lebih pop ketimbang budaya yang merupakan hasil representasi perjuangan? Kebingungan ini tak bermaksud untuk upaya polarisasi, antara Mbah Surip dan Rendra. Sebab tentu visi mereka sama, hanya cara mereka yang berbeda. Yakni kepedulian yang sama, mimpi yang sama, meskipun gaya yang berbeda. Atau kebingungan ini bisa di hadapkan kepada massa pelayat Mbah Surip, yang berjejal-desak ingin mencium tangan Manohara yang juga ikut ke pemakaman.
Dan duka kecewa serta kecemburuan  diri saya yang masih penuh noda selanjutnya, ialah pemberitaan media yang lebih banyak menyelipi tentang pengepungan sebuah rumah di Temanggung. Bahkan ada dari salah satu stasiun televisi swasta, yang dalam agenda awal hendak membahas Rendra dari orang-orang terdekatnya. Sitoresmi dan Putu Wijaya. Dalam acara yang rencananya berlangsung satu jam, ternyata  narasumber hanya sempat mengucapsepatah dua patah kata (dalam artian yang sebenarnya). Sebab terpaksa dialihkan pada penyergapan teroris nomor wahid Noordin M. Top, sebab pemberitaan mesti faktual maka perlu dipaksa pula untuk aktual.
 Michael Jackson, Noordin M. Top, Mbah Surip, dan Rendra, telah pergi. Terlepas dari segala bentuk ingat kenangan dan tendensi opini publik, yang juga terbentuk atas upaya ideologi media melalui  pemberitaan-pemberitaan. Smash your television, and get satisfaction in your books. Kemudian bacalah.